Tak Berkategori

Mie nya Penjajah

Curhatan ini berawal dari sebuah perlombaan di sebuah universitas ternama di ibu kota. Jadi ceritanya gini, selama hari perlombaan aku sama temen-temen “numpang” di kos-kosan alumni deket sebuah universitas Islam di Ciputat. Pada malemnya tiga diantara kita (termasuk aku) memutuskan untuk sholat berjamaah di Masjid Fathullah, kami bertiga berdandan ala santri banget, sarung + peci + kemeja panjang.

Pulang jama’ah di depan kampus tersebut aku kami bertiga (aku, Hasan dan Alex) nongkrong sambil makan es krim (coz di sini panasnya… ampun), mirip gelandangan sih, tapi abaikan… kami pengen menikmati suasana kota di malam hari, lalu-lalang kendaraan, aktivitas orang kota. Pas lagi nongkrong, tiba-tiba muncul dua sosok yang kayaknya aku kenal, yang satu badannya gempal dan satunya lagi berkacamata, ternyata itu si Bos Besar dan Fidel. Penampilan mereka urban banget, celana jeans belel (belel atau luntur?), baju khas rock (gambarnya tengkorak) dan bersepatu, kontras sama kita bertiga. Ternyata mereka mau nyari makan malem, kita bertiga juga diajak tapi aku usul untuk pulang dulu untuk ganti baju, agar ngga kalah “urban” sama mereka. Tapi si Alex ngga setuju, “ngga papa bro, kita harus bangga dengan status kita. Santri!”, omongannya mirip pidato Bung Karno pas mendeklamasikan Nasakom, aku dan Hasan terdoktrin dan setuju. Akhirnya kami berlima hang out bareng, geng kita terkesan aneh sih, kombinasi 2 anak urban gagal dan 3 santri semi-salaf. Beberapa orang memandangi kami dengan tatapan aneh, aku heran kenapa orang sekarang kek gitu, bukannya Bung Karno juga pake peci juga yah?.

Geng yang punya kombinasi aneh ini bingung milih menu makan malem. Warteg, aduh… mainstream banget, masa jauh-jauh ke kota mau makan di warteg?, mie ayam?di pondok juga ada itu mah… Akhirnya si BB (Bos Besar) usul agar kita makan ramen, kita berempat setuju aja, coz dia akan orang urban, otomatis dia lebih tau kota dan segalanya isinya dari pada kita berempat yang berasal dari desa. Kami memilih sebuah restoran ramen yang warna cat temboknya didominasi warna merah dan hitam (AC Milan banget!, jangan-jangan pemiliknya Milanisti?), saat masuk kita langsung disambut 4 mba-mba yang berbusana “Islamic Japanese”, (itu nama buatanku buat style mereka), jujur aku kaget saat mereka menyambut kita dengan kata-kata “Selamat datang di blablabla…”. Hm…kampungannya kambuh nih xixixixi. Setelah milih tempat duduk, seorang pelayan datang dan menawarkan menu-menu yang ada. Ada mie ramen rumput laut, ada ini itu dsb. Nama-nama minumannya juga aneh-aneh, ada ocha apa ini itu. Bahasa Jepang semua. Hahahaha.. aku pusing. Akhirnya aku pilih sekenanya, Mie ramen rumput laut dan Ocha Honey Special, Aku penasaran kaya apa itu ramen dan apa itu ramen. Saat ditanya level pedasnya kami jujur bingung. BB dengan tegasnya pilih level 5, level tertinggi, aku, Alex dan Hasan pilh level 3 (cari aman), Fidel kebingungan, soalnya dia punya penyakit maag, dia gk boleh maka yang pedas-pedas. Dengan muka ragu dia tanya, “level nol ada mba?”, tanya dia malu-malu. “Hmm…” jawab mba-mba itu bingung. “Level satu aja deh mba”, Fidel menimapali.

Akhirnya pesanan dateng, aku shock saat tau bahwa ocha honey itu adalah tes manis yang kurang gula (warteg juga ada ni mah…) dan mie ramen itu ya mie rebus, kelasnya sedikit di atas pop mie sih, tapi porsinya dikit, Cuma airnya aja yang banyak. Rasa pedasnyaa… ampuun…. PEDESSSS BANGETTT…. Tisu hampir abis buat ngelap ingus yang meler.. hmmm kampungan banget. Fidel yang takut maagnya kambuh makan dengan ragu. BB yang emang doyan makannn makan dengan lahap seakan tak merasakan rasa pedas yang kebangetan. Cowo berbadan subur (ini Eufemisme dari gembrot) menhabiskan ramennya dengan cepat, bahkan kuahnya pun ludes, bahkan Dia sempet-sempet nya minta kuah orang lain (ngomongnya sih nyicip…), Tisu di meja hampir abiz…. (kita beli ramen apa beli tisu sih?). Akhirnya Kita selesai makan, BB ngajarin aku biar ngota dikit… Aku suruh diminta tagihan, tapi Aku ngga boleh ngomong tagihan, Aku ngomongnya harus bill, biar terkesan ngota gitu….Akhirnya aku nurut.. “Mba minta bill nya donk….” pintaku dengan suara sedikit keras, “Boleh-boleh.. semuanya 150…”, Aku tersentak saat mendengar tagihan, edaan…. popmie sama teh manis 5 porsi harganya 150… Aku langsung mbayar sambil memikirkan, kalau di kota segini biasa, kata si BB. Aku jadi teringat asal mie mahal itu ; Jepang. Mungkin Jepang merasa kurang puas karena menjajah Indonesia Cuma tiga tahun, makanya Mereka menjajah indonesia dalam bentuk penjajahan yang lain ; Penjajahan Ekonomi. Salah satu perantaranya yaitu : Mie Ramen!, mie yang menjajah kantong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *