Bahasa

Pertigaan FTV

Pernah nonton FTV? Kalo ngga film dengan genre percintaan? Pasti pernah dong… Tau dong gimana biasanya lakon cowo sama cewe nya ketemu? Papasan dan terus tabrakan kan? terus buku yang dibawa cewenya berantakan dan si cowo bantu mberesin. Ngga berhenti di situ, terus tanpa sengaja (mungkin…), tangan si cowo megang tangan si cewe terus adu pandang deh… jangan lupa, ada soundtrack nya juga.  Kalo ngga sampe tabrakan ya… adu pandangan (biasanya didramatisir dengan slow motion). Sungguh sangat klasik. Walaupun sangat mainstream, tapi penulis sungguh sangat menikmatinya, So Sweet banget ha..ha..ha..

Sekarang kita ke pondok. Di pondok rombongan belajar di sekolah antara lawan jenis dipisah. Alasannya untuk menjaga pandangan, meningkatkan konsentrasi dan lain-lain. Ngga Cuma di kelas, di dalam pergaulan sehari-hari juga dipisah. Tapi jangan berpikir bahwa di pondok ngga punya kejadian a la FTV. Justru karena dipisah malah hal-hal sederhana bagi anak non-pondok menjadi sebuah hal yang sangat indah bagi santri. Contohnya, ngomong sama lawan jenis aja udah bikin seneng, apalagi kalo sama dia yang dipuja, rasanya pengen ngobrol sampe besok, walaupun ngomongnya juga ngga berhadap-hadapan alias ada penghalang. Itu aja udah bikin seneng, jingkrak-jingkak sendiri dan selebrasi-selebrasi konyol lainnya.

Ruang kelasku berada di sebuah gedung tiga lantai, lantai satu zona cewe dan lantai tiga area cowo, kedua zona ini haram dilanggar meski tidak ada aturan tertulis atau pihak yang mendeklarasikan, hanya kearifan lokal yang mengesahkan aturan ini. Sebenernya lantai dua adalah zona netral, di situ isinya lab. Bahasa dan  moving class  plus kamar pembina tidak resmi, namun semenjak sekolah menerima dua kelas perempuan untuk programku, lantai dua juga dipake buat kelas putri. Ini adalah babak awal dimulainya adegan-adegan FTV dipentaskan, mulai dari yang disengaja maupun tidak. Yang sengaja contohnya adalah ngobrol masalah organisai. Namanya juga manusia, kadang-kadang perbuatan ini juga ditunggangi kepentingan lain, mirip kedatangan Tentara AFNEI (Sekutu) ke Indonesia yang ditunggangi Tentara Belanda (NICA). Kalo yang ngga sengaja itu lebih berkesan, karena bentugnya mirip pertigaan, kadang kalo cowo masuk dari gerbang dan buru-buru mau ke moving class ataupun lab. dan tanpa sepengetahuannya ada cewe yang mau turun ke lantai satu, akan terjadi insiden tabrakan. Menurut sejarah, tabrakan belum pernah terjadi, paling banter ya… adu pandang. Yang cewe nya langsung kaya orang mengheningkan cipta.. menundukkan kepala (Masya Allah banget kan!), yang ekstrim adalah Dia setengah teriak ngucap istighfar, kaya liat apaan  yah?, tapi itu udah untung daripada baca Ta’awudz atau Ayat Kursi?. Yang lebih ekstrim ada, para ekstrimis ini langsung mencari tembok terdekat dan menenggelamkan mukanya (menghadap tembok) mirip wanita pramunikmat (apa hayo artinya? Cek di KBBI aja…) yang tertangkap razia. Kadang-kadang penulis Cuma bisa geleng-geleng menyikapi tingkah laku mereka. Penulis sendiri pernah ngalamin mau tabrakan, ceritanya itu pas seleksi masuk siswa baru, Aku pas itu bawa kardus mau ke lab. Tanpa sepengetahuanku ada calon adik kelas (dia cewe) mau keluar dari koridor lantai dua dan…. hampir saja kita bertabrakan, untung penulis masih bisa mengendalikan laju badan. Celakanya, Ust. Nafis liat, Dia Cuma senyum-senyum melihat adegan itu, terus Dia ngledekin penulis. “Ciee… cie…”, penulis hanya bisa tersipu, meski sederhana kadang ini manis. Semacam hiburan di padatnya jadwal KBM yang mengusung jargon fullday school.

 

Kelas Satu ngga akan ngobrol sama lawan jenis kecuali dipanggil duluan, Kelas dua mulai PD ngobrol, mereka memiliki  otoritas resmi yang melagalisasi apa yang mereka perbuat. Kalo Kelas Tiga? Mereka sudah tak malu memblokir pertigaan untuk bercakap-cakap ria. Tendensinya sangat beragam, mulai dari kegiatan akhir tahun, studi lanjutan, bahkan juga ada yang bermotif hati. Biasanya siapapun orang dengan tipe ini dicap sebagai Wadonan, anak cowo  yang suka berurusan sama cewe, kalo ngga yang tau banyak tentang cewe.

Pertigaan ini bagi penulis dan siswa lain menjadi semacam panggung untuk cerita-cerita cinta ala putih abu-abu yang bikin senyum-senyum sendiri sampai ketawa cekakan. Ketika akan ada pelajaran sentral (putra dan putri digabung) pertigaan ini berfungsi sebagai sarana melihat dia yang dikagumi. Kalau yang ngga punya, sebagai ajang refreshing (baca: melihat seseorang yang menyegarkan).

 

Kala jam masuk kelas, istirahat, atau pulang, di pertigaan ini seperti semacam ada lampu lalu lintas tak terlihat. Saat siswa putra melintasinya, siswa putri dengan legowo nya menunggu mereka lewat semua baru mereka lewat atau sebaliknya. Sangking altruis nya, kadang-kadang kedua belah pihak saling menunggu untuk lewat, kala lama saling menunggu akhirnya keduanya sama-sama mengambil inisiatif untuk lewat. Hasilnya: adegan FTV.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *