Bahasa

Tarik Ulur Liburan Smester

Pada penghujung smester ini trending topic di kalangan santri pasti liburan smester. Bukan tanpa sebab, tapi menurut tradisi yang telah berjalan santri diperbolehkan “cabut” ke rumah masing-masing. tapi stop, ini cuma untuk santri reguler, beda judul dengan aku yang santri yang bisa disebut eksklusif, menurut pengalamanku anak-anak unggulan (MAK dan Emercy) tidak diperbolehkan pulang, mungkin gue ngga sock atau pa, coz itu dah penderitaan yang berkesinambungan.

Tahun ini ada desas-desus yang mengatakan MAK dan Emercy diperbolehkan pulang, tetapi kembali tapi ini masih sekedar kabar burung (burungnya sapa gue gx tau). Dipikir-pikir pulang atau gk sama-sama ada konsekuensi, berikut teorinya :

#KaloPulang

Enaknya bisa tidur di atas sprei AC Milan, makan gratis, ketemu adik (adik yang asli dan yang ketemu kemarin). Tapi kalo pulang rasanya kaya g mna gitu pengennya tiduran mulu, cobaan IMTAQ (Iman dan Taqwa) juga 10x lipat jika dibandingkan di penjara suci ku. Di pondok aja malezz blajar p lagi di rumah?, kerjaannya mantengin monitor, pergi ke suatu tempat untuk nostalgia, eg : MTs ku dulu, lapangan di depan nya, tempat2 nongkrong dulu etc. Dan yang gx enaknya terakhir tentu males balik ke pondoknya lagi, maklum udah terlanjur PW.

#KaloNGGApulang

Enaknya ngrasa kaya pemilik pribadi rubath Al-hasan, main futsal di GOR, keluar masuk pondok tanpa ijin. ngga enaknya : kalo maen sosmed, galau sendiri liat foto2 temen yang lagi berlibur, kumpul bareng famili, reunian dll. terus nggrentesnya tuh soalnya tahun ini gue gx akan menghirup udara romadlon di Sudimara tercinta, gue harus berpuas diri menghirup oksigen Benda City.

Conclusion : Pulang ngga Pulang smua ada advantages dan disadvantages nya, tapi gue dengan jujur dan gentle lebih milih opsi ke 2, soalnya menurut gue opsi itu lebih berperi kesantrian, egaliter dan humanis, tapi jika opsi ke 2 yang nongol dengan tidak kalah gentlenya gue bakal nerimo ing pandum.

SO what ever will happen, just happen

I ll enjoy my life, coz it’s just once…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *