Tak Berkategori

Welcome to Campus

Akhirnya, setelah menempuh 4 tahun (satu tahun kelas perang) masa SLTA yang penuh perjuangan dan pergolakkan akhirnya aku lulus. Alhamduliilah (lagi), meski bukan di luar negeri, bukan PT yang terlalu mentereng, bukan di prodi pilihan pertama juga aku bisa kuliah. I’m grateful here, among me there are many guys couldn’t get this chance. where ever i study, what ever my study, and what ever i face. Aku diterima di salah satu universitas negeri berbasis Islam di Tangerang Selatan. Sebuah universitas yang tak terlalu bergengsi memang, tapi aku yakin ini yang terbaik (bagiku). Yang aneh, embel-embel Islam di kampusku kadang meredupkan namanya. Nah lho! Bukannya Indonesia negara 85% muslim, kenapa muslim nya sendiri underestimate sama produk mereka sendiri? Abaikan, mungkin mereka pengagum Attattruk sang Bapak sekulerisme Turki, apalah ngga tau hehe.
Sebagai universitas Islam yang dimiliki negara, kampusku menyatakan netral dalam hal aliran/golongan/mazhab/apapun itu, asalkan masih bisa diajak bersama dalam hal keindonesiaan. Hal ini memunculkan diversitas (ma’af pake bahasa intelek, kan udah jadi mahasiswa) dalam berbagai aspek keislaman. Kampusku bisa merangkum keberagaman muslim di Indonesia, dari yang paling liberal sampai yang paling konservatif. Dari yang pake hijab landung hingga yang menutup aurat secara moderat (mereka menyebut moderat, tapi bagiku sih pakaian ketat. Bedanya pakai kerudung yang dililitkan dan dilipat, rambutnyapun masih terlihat). Pahamnya pun kaya, dari yang memploklamirkan sebagai golongan anti-bid’ah sampai yang menjalankan agama setengah-tengah bahkan dengan ogah-ogah (an). Pokoknya keren, ada 1001 satu macam Islam di sini, tinggal kita pilih kita berpihak ke mana atau menjadi golongan abu-abu yang apatis atau memunculkan golongan Islam versi lain.
Seperti kampus yang lain, macam-macam mahasiswa dalam masalah kegiatan di kampus juga jamak. Ada mahasiswa kupu-kupu (ngga pake Malam), kupu-kupu merupakan pengulangan dwilingga (kalo ngga salah) dari akronim yang merupakan kepanjangan dari kuliah-pulang, kuliah-pulang tiada henti sampai sarjana. Mereka apatis dengan lingkungan, tak peduli kenaikan UKT, konflik kemanusiaan di negara sebelah, persaingan politik atau apapun, asalkan mereka bisa makan di kedai antek kapitalis barat, nonton film terbaru dan ndengerin musik yang lagi hits. Sebagian mereka adalah anak pintar (ada juga yang kurang pintar sih) yang masa depannya sudah terencanakan secara detail, biasanya datang dari keluarga berada. Mereka adalah anak rumahan yang ngga bisa tidur kalau ngga di kamar mereka atau bahkan kamar ortu (ma’af kalo terlalu mengandung unsur hiperbola).
Golongan selanjutnya adalah mereka organisatoris, visinya kuliah untuk berorganisasi. Kebanyakan tipe ini adalah mereka yang merasa salah jurusan. Faktor yang menyebabkan salah jurusan beragam, ada yang karena kampusku adalah pilihan terakhir dan satu-satunya (eufemisme dari ditolak di kampus-kampus impian (versi mereka)). Mereka berpikiran bahwa “kalo gue ngga menonjol di bidang akademik bolehlah gue bersinar di luar kelas”. Aku ngga menafikan mahasiswa yang nyaris sempurna; punya tampang, berada, organisatoris dan bintang di kelas. Mahasiswa golongan ini ada dan bukan mitos, namun terancam punah.
Oh ya, di kampusku juga ada beberapa organisasi pergerakan mahasiswa. Ada empat yang aku tau, mereka berempat becorak islam dengan ciri-ciri masing-masing. Si Hijau-Hitam, ini adalah organisasi mayoritas di kampusku. Ia mendapat pengikut karena menerima semua kalangan muslim dari semua golongan. Yang kedua adalah Si Biru Kuning, dia adalah saingan berat hijau-hitam. Si Biru-Kuning banyak diikuti para santri, organisasi ini mengusung Islam yang moderat dan keindonesiaan. Selanjutnya adalah Si Merah, ia tergolong minoritas. Hal ini bisa terjadi karena organisasi ini menggunakan nama ormas Islam sebagai namanya. Jadi, pengikutnya berasal dari jamaah ormas ini juga. Yang terakhir adalah si Hijau, ia adalah organisasi pergerakan yang mengusung sikap salafisme. Pemikiran si Hijau sering bentrok dengan si Biru-Kuning.
Kesimpulannya, kampusku adalah rumah bagi diversitas Muslim Indonesia. Kala semua ini terjadi aku hanya bisa berpegang kepada:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُم

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *